Penderita Hipertensi di Bogor Terus Meningkat

BogorNews.com –  Dr. Eddy Darma, MKKK, Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit & Penyehatan Lingkungan, Pemerintah Kota Bogor  mengatakan penderita hipertensi  (darah tinggi) di Bogor senantiasa meningkat dari tahun ke tahun. Maka dari itu Dinas Kesehatan Pemerintah Kota Bogor tak jemu-jemu mengingatkan warganya terutama yang berusia 18 tahun – 65 tahun untuk menghindari jenis makanan sehari-hari yang pekat dengan kandungan lemak, garam, dan gula yang menjadi pemicu penyakit darah tinggi atau juga dikenal penyakit yang tidak menular.  

“Melalui 1.000 kader di Pos Bimbingan Terpadu Penyakit Tidak Menular (Pos Bindu PTM)  yang tersebar di 6 kecamatan di Kota Bogor, kami (Pemda dan kader)  instens melakukan penyuluhan supaya warga mengubah gaya hidupnya  dengan mengurangi makanan yang banyak mengandung lemak, garam, dan gula,” jelas Eddy  kepada bogornews.com di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.

Meski tak menyebut angka pasti  hipertensi di Bogor, namun berdasarkan Survei Rumah Tangga (SKRT) kecenderungan proporsi penyebab kematian telah bergeser dari penyakit menular ke penyakit tidak menular.  Proporsi penyebab kematian penyakit menular pada tahun 1980 mencapai 69,49% terjadi  penurunan pada tahun 2001 mencapai 44,57%; sedangkan proporsi penyebab kematian penyakit tidak menular cenderung naik, yitu pada tahun 1980 mencapai 24,41 pada tahun 2001 mencapai 48,53%. Proporsi penyebab kematian penyakit tidak menular ini adalah jenis kardiovaskuler, yaitu  jantung istemik dan stroke

Pejabat Pemkot Bogor kelahiran Ambon ini mengatakan bahwa jika orang sudah terkena hipertensi ini  maka sulit sekali penanganannya dan membutuhkan ongkos  medis yang cukup besar  biayanya. Apalagi, hipertensi  merupakan salah satu gangguan yang dialami dengan berubahnya gaya hidup, sehingga meningkatkan kejadian penyakit jantung dan pembuluh darah.

Seperti yang dikutip buku Pedoman Teknis Penemuan dan Tata Laksana Hipertensi  (Departemen Kesehatan RI: 2008) hipertensi adalah faktor risiko ketiga terbesar yang menyebabkan kematian dini. Selain itu hipertensi juga dapat menyebabkan terjadinya gagal jantung kongesif serta penyakit cerebrovasculer. Gejalannya antara lain pusing, sakit kepala, keluar darah dari hidung secara  tiba-tiba, tengkuk terasa pegal, dan sebagainya.

Penyakit ini dipengaruhi oleh cara dan kebiasaan hidup seseorang yang sering disebut sebagai the silent disease, karena penderitanya tidak mengetahui kalau dirinya menderita hipertensi.   Muncul sejumlah risiko yang menjadi penyebab hipertensi meningkat,  karena berubahnya gaya hidup akibat urbanisasi, modernisasi, dan globalisasi.

Eddy yang lulusan magister K3 dari Universitas Indonesia ini mengatakan ada pandangan keliru dimasyarakat terhadap penderita hipertensi. Jika sebelumnya diasumsikan diderita kalangan  orang kaya, kini pasca penelitian ditemukan juga hipertensi diderita oleh kalangan miskin. Bahkan, jumlah penderita dari kalangan orang miskin ini semakin banyak. Dengan demikian terlihat bahwa hipertensi menyerang siapa saja dari berbagai kelompok umur, sosial, dan ekonomi. “Hipertensi tidak pandang bulu, menyerang siapa saja terutama yang tidak disiplin dalam mengkonsumsi makanan,” jelas Eddy.

Sebagai contoh orang kaya mengonsumsi makanan lemak hewani, sehingga kolesterolnya meningkat yang mengakibatkan kekentalan darahnya juga meningkat.  Kemudian mengkomsumsi makanan yang banyak mengandung garam seperti ayam goreng di rumah cepat saji yang semakin trend di Indonesia.

Sementara orang miskin hipertensinya meningkat karena mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung garam tinggi seperti suka makan makanan gorengan, ikan asin, sambal, dan sebagainya. 

Sesungguhnya gaya makan orang Bogor baik sekali, sebab  suka mengonsumsi sayur mayur  dan buah. Tapi untuk sayuran padanannya selalu dengan sambal yang banyak mengandung gram. Sebaiknya, konsumsi garam ini dikurangi dengan mengubah pandangan bahwa penyakit gondok bukan disebabkan oleh kekurangan garam, tapi yodiumnya yang bermasalah. Biasanya yodium memang dicampur dalam garam. “Jadi pandangan selama ini karena orang Bogor hidup di lingkungan pegunungan, maka harus banyak makan  garam seperti yang terdapat dalam sambal  dan ikan asin untuk menghindar penyakit gondok, sebaiknya diubah supaya menguranginya atau tidak sama sekali. Dengan demikian dapat menekan jumlah  hiperteni  di Bogor yang terus meningkat dari tahun ketahun,” jelas Eddy.

Melalui 216 Pos Bindu yang terdapat di 6 kecamatan di Kota Bogor  dengan 1.000 kadernya,  Dinas Kesehatan Kota Bogor bersama kadernya terus menganpanyekan pola hidup sehat kepada masayarakatnya.  Sebab kalau tidak mengubah gaya hidup dengan mengurangi makanan yang banyak mengandung lemak, garam, dan gula, maka akan bermasalah dengan tekanan darah tinggi  yang menyebabkan  jantung koroner, stroke, dan sebagainya. [] (Zaz)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button