Mencegah Liver, RS Pertamedika Sentul City Mengajak Masyarakat Hidup Sehat

Bogornews.com –  Menurut  data  World Health Organization (WHO)  terdapat 15% dari total penduduk Indonesia adalah penderita  penyakit hati atau liver. Selain itu, masih kata  WHO, Indonesia merupakan urutan ketiga sebagai penderita liver kelas dunia setelah Banglades dan India.

Dr. Kamelia Faisal, MARS, Direktur Operasinal, Rumah Sakit Pertamedika Sentul City mengatakan dari 15% itu terdapat 3%-nya adalah  penderita sirosis atau kanker hati. “Penderita sirosis ini  besar jumlahnya, mengingat penduduk Indonesia besar,” kata Kamelia kepada bogornews.com di ruang kerjanya di Sentul City beberap waktu lalu.

Hepatitis menjadi salah satu penyebab menurunnya fungsi liver. Hepatitis yang tidak tertangani dalam jangka panjang bisa berkembang menjadi sirosis atau kanker hati.  Bila liver sudah terkena sirosis, maka harapan penyembuhannya hanyalah transplantasi. “Sebagai anak bangsa,  tentu kami (RS PErtamedika Sentul City) prihatin dengan kondisi 15% penderita liver di Indonesia ini dan kami ingin  berperan untuk mengatasi masalah ini (penyakit liver),” jelas  Kamelia sambil mengatakan bahwa rumah sakit ini mencanangkan pelayanan bermutu dengan konsep “30 Minute Service Excellence”.

RS Pertamedika Sentul City adalah rumah sakit rujukan untuk pengobatan liver dan jantung di Indonesia. Jika sebelumnya masyarakat Indonesia tidak memiliki rumah sakit rujukan liver, kini tidak perlu lagi ke luar negeri untuk berobat penyakit liver.    Bagaimana peta 15% penderita liver itu? Bagaimana strategi manajemen rumah sakit ini dalam menangani penderita liver tersebut? Berikut ini petikan wawancara BOGOR NEWS.COM (BNC) dengan dr. Kamelia Faisal (KF), di kantornya di Sentul City:
BNC :

Dari 15% penderita liver itu bisa dijelaskan jenisnya?
 
KF :
Dari 240 juta penduduk Indonesia, sekitar 15% menderita penyakit hati, mulai dari hepatitis B, C, fatty liver hingga sirosis dan kanker hati.
 
BNC :
Dari 15% itu mayoritas penderitanya siapa?
 
KF :
Agak sulit menjawab ini karena merata yang menderitanya. Maksudnya tidak bisa kita katakan dari kalangan tertentu saja, karena tergantung jenis penyakitnya. Jika dulu dianggap penyakit orang miskin, tapi kini juga melanda orang-orang kaya.  Sebagai contoh kalangan muda, pengguna narkoba. Kalangan ini paling rawan terkena penyakit hepatitis karena  selalu bergantian menggunakan jarum suntik dan hidup mereka tidak teratur. Pengguna narkoba selain mahasiswa juga melanda para pelajar. Apalagi,  kaum muda paling banyak jumlahnya di Indonesia.  Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang kaya.  Atau seperti  fatty liver, yaitu  perlemakan hati yang  suplay makanannya berlemak tinggi dan tidak bisa dipecahkan oleh tubuh, sehingga lemak ngumpul disekitar hati. Kalau dibilang itu karena terlalu sering makan  yang enak-enak , tapi tidak selalu juga seperti itu. Jadi  bukan persoalan makan enaknya, tapi fungsi metabolism tubuhnya memang  sudah tidak normal, ketika makan sedikit saja lemak  tidak bisa dipecahkan, sehingga  menumpuk. Atau dia  makannya sedikit saja, tapi pola hidupnya tidak bergerak mungkin tidak pernah olahraga, banyak berada di lingkungan tertutup hampir enggak banyak gerak, jadwal  makan tidak  teratur dan sebagainya. Budaya masyarakat kita juga malas kedokter, lebih baik beli obat ketoko obat atau warung, merasa sudah sembuh  dia meneruskan  minum obat seperti itu.  Sampai suatu saat kebal atau enggak bisa lagi, baru dia kedokter. Ini khan sudah sulit. Jadi penggunaan obat-obat yang salah itu juga menjadi pemicu liver. Sementara di Amerika dan negara Eropa penderita  penyakit sirosis hepatis tertinggi adalah pengguna  alkohol. Livernya rusak  karena alkohol. Indonesia juga pola hidupnya sudah kearah sana, itu kita sama-sama tahu bagaimana kehidupan di club-club malam, anak-anak muda usia di atas 17 tahun sudah berani minum minuman beralkohol  sampai terkena penyakit hati. Jadi sumber penyebab penyakit liver itu banyak. Maka berbagai kalangan akan terkena penyakit liver.

BNC :

Sebagai rumah sakit khusus liver, bagaimana strategi  RS Pertamedika Sentul City mengahadapi penderita liver ini?
 
KF :
Sikap kami jelas  akan melayani penderita liver mulai dari hulu sampai ke hilir. Maksudnya  para penderita liver akan ditangani dokter spesialis. Kemudian sebagaimana prinsip dunia kedokteran selalu melakukan empat hal: prefentif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif.
 
BNC :
Konkretnya seperi apa langkah di sektor hulu?
 
KF :
Untuk setor hulu ini langkah yang sudah kami lakukan walaupun kami baru soft opening (akhir September 2013), kami datang ke sekolah yang ada di sekitar kawasan Sentul City ini memberikan awareness (penyadaran)  kepada para ibu yang memiliki anak yang masih duduk di Taman Kanak-kanak (TK). Kenapa? Anak-anak TK ulang tahun (ultah), ibunya enggak mau repot, maka ultahnya dilaksanakan di mall. Makanannya instant food. Gejala ini diteruskan sampai anak itu besar, tidak sampai usia 30 tahun dia bisa kena risiko  liver. Sedangkan yang SD sudah mengerti jajan, SMP sudah mulai bandel mulai merokok  dan sebagainya. Sedangkan yang SMA bukan lagi sekedar obat dan narkoba, tapi juga sudah menjurus ke perilaku seks bebas yang bisa mengarah ke macam-macam penyakit, salah satunya hepatitis. Untuk TK dan SD, para orangtuanya yang kami edukasi untuk membangun kesadaran mereka dalam mengarahkan masalah kesehatan kepada  putra putri mereka. Jadi RS Pertamedika Sentul City ini sudah berperan seperti itu.
 
BNC :
Mengapa harus RS Pertamedika Sentul City yang berperan sebagai penyuluh kesehatan. Bukankah umumnya rumah sakit berharap pasien yang datang ke rumah sakit?
 
KF :
Kami tidak munafik, tentu kami berharap pasien datang kerumah sakit ini. Cuma ada tahap-tahapnya sampai mereka datang kerumah sakit ini. Ketika kami memberikan awareness akan ada kesadaran, sehingga peduli dengan  kesehatan  diri mereka. Pada tahap ini kami memiliki fasilitas medical check up lengkap yang  berfung si untuk medeteksi  kondisi tubuhnya dalam kondisi sehat, sudah mau sakit, atau sudah sakit.  Dari sini kami mengarahkan bahwa syukurlah Bapak/Ibu belum kena penyakit, tapi sudah ada gejalanya. Misalnya ada terdapat batu di empedunya. Apa hubungannya? Posisi empedu dekat dengan liver. Empedu mengalirkan cairannya ke liver untuk membantu penghancuran lemak. Jika batu itu didiamkan lama kelamaan tersumbat, sehingga livernya ikut sakit. Di sini kami mengedukasi. Jika  hasil check up ada tindakan, itu bukan berarti kami mengada-ada. Kami bilang daripada bapak/ibu mendiamkan natinya jadi ke liver, diangkat saja batunya sekarang. Itu sesungguhnya edukasi, tetapi tetap  kita lakukan dengan  tindakan yang sederhana.    Kami juga memiliki rehabilitasi medis. Fungsinya bukan seperti penderita stroke, setelah menderita  baru direhabilitasi. Jadi misalnya, pasien yang baru dioperasi empedu masih mengalami mual-mual kemudian dianjurkan berolahraga yang ringan dan mengkonsumsi makanan yang  sesuai kondisi  pasien. Di rehabilitasi medis ini diajarkan terapi apa yang harus dilakukan di bawah pengawasan petugas kami. Setelah   kondisi pasien membaik dan sudah pulang kerumahnya, hubungan rumahsakit ini dengan pasien tidak selesai sampai di situ, tetapi kami lakukan konseling dan homecare.

BNC :

Apa target selanjutnya?
 
KF :
Kami berusaha mengurangi angka penderita 15% melalui pemberian awareness dengan mengajak  masyarakat kita supaya hidup sehat. Selain itu  menekan atau menyembuhkan penderita 3% yang sudah masuk kategori sirosis atau kanker hati melalui tindakan transplantasi dengan fasilitas medis dan dokter  spesialis liver di rumah sakit ini. [] Zaz

Foto: dr. Kamelia Faisal, MARS (foto: zaz)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button