Bertepatan Hardiknas Seniman dan Budayawan Deklarasikan Rebo Nyunda

BOGORnews,== Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) puluhan seniman dan Budayawan Sunda, mendeklarasikan Rebo Nyunda yakni menggunakan bahasa dan pakaian Sunda pada setiap hari Rabu.  Deklarasi ini digagas oleh budayawan dan seniman Tjetjep Toriq dan Dadang HP.

Deklarasi yang digelar di Saung Sanajan, Lapangan Sempur Kecamatan Bogor Tengah Kota Bogor, Jumat (2/5/2014) sore, diisi dengan penandatangan diatas kain putih sepanjang 30 meter.

Para seniman sunda ini mengelilingi lapangan Sempur untuk meminta tanda-tangan masyarakat yang ada di sekitar lapangan. Acara ini juga dimeriahkan oleh Rampak  kacapi dari SD Negeri Gunung Gede.

Tjetjep Toriq salah satu penggagas kegiatan ini menjelaskan, kegiatan tersebut sengaja digelar karena bertepatan dengan Hardiknas yang dipusatkan di Lapangan Sempur. “Dipilihnya Saung Sanajan, karena berada dipinggir kali Ciliwung yang merupakan sungai tua di Bogor.”kata Tjetjep Toriq

Dijelaskan Tjetjep, Deklarasi Rebo Nyunda dimaksudkan untuk mengingatkan pentingnya penggunaan bahasa Sunda yang sekarang ini sudah amat jarang digunakan di Kota Bogor, khususnya di kalangan generasi muda.

“Kami akan terus mengumpulkan tanda-tangan minimal 1000 tanda tangan di kain putih sepanjang 30 meter. Nanti, tanda tangan tersebut  dan rencananya akan kami serahkan kepada Walikota Bogor, Ketua DPRD bahwa program tersebut didukung oleh masyarakat Kota Bogor,”tegasnya

Momentum ini, kata Tjetjep, dilaksanakan bertepatan dengan Hardiknas, karena  akan lebih berarti dengan upaya memasukkan pengajaran kearifan sekolah kepada dunia pendidikan.

Mengenai pasanggiri Mojang Jajaka yang akan digelar Dibudpar, Tjetjep  menyarankan, agar para mojang dan jajaka bisa menggunakan bahasa Sunda sebagai salah satu syaratnya.  “Namanya saja mojang dan jajaka, masa iya tidak bisa berbahasa Sunda,” tukasnya.

Sementara itu salah seorang budayawan yang juga pengrajin Kujang, Wahyu Affandi Suriadianata mendukung gagasan ini.   “Meskipun acaranya sangat mendadak, tapi para budayawan dan seniman banyak yang mendukung kegiatan tersebut. Tampaknya ajian  yang digunakan Tjetjep dan Dadang, Prok-Prek-Prak, tanpa banyak perencanaan langsung dilaksanakan,”ujar Wahyu. (redaksi/dhp)

 
Teks Foto : Seniman dan Budayaan Saat Deklarasi Rebo Nyunda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button