Abah Dasep Sang Inovator Alat Musik Bambu

BOGORnews,== Bambu menjadi tanaman yang begitu akrab dengan geliat jiwa seni urang Sunda. Paling tidak begitu keyakinan Dasep Arifin, seniman Sunda yang sejak tujuh tahun terakhir fokus mengembangkan aneka jenis alat musik berbahan bambu.
    
Di padepokannya, Gapura Bumi Sangkia yang artinya Garapan Pusaka Rakyat Tanah Pertanian, di Jalan Loader Nomor 2 Komplek Binamarga Kota Bogor Abah Dasep sapaan akrab Dasep Arifin,  menciptakan berbagai alat kasenian dari bambu diantaranya kacapi sampay, gintung, gitar, bass dan tarawangsa.
    
Kacapi Sampay terdiri dari 42 kawat, suaranya multinada, bisa diantonis maupun pentatonik. Sementara kacapi gintung, digunakannya dengan cara berdiri, beda dengan kacapi biasanya yang tidur.  “Nama gintung terinspirasi dari salah satu tempat di Kota Bogor, yakni Lawang Gintung, “ kata Abah Dasep.
    
Alat seni yang terbuat dari bambu yang diproduksinya ternyata sudah melanglang dunia seperti  biola taua piul (Sunda-red) sudah dikirim ke Shanghai, China dan  Qatar. Sedangkan  kacapi gintung pernah mendapat pesanan dari Eindhopen Belanda.  “Saat ini saya sedang membuat gitar dan bass pesanan  Mr. Hans orang Norwegia yang pernah datang ke sini,” ucap  lelaki yang juga seniman tari tersebut
    
Keputusannya mengembangkan alat musik bambu karena menurutnya, mulai dilupakan orang."Identitas masyarakat Sunda itu bambu. Masyarakat kita itu agraris, tidak mungkin membuat alat dari besi yang mahal dan makan waktu membuatnya," jelas pria yang usianya sudah menginjak kepala enam ini.
    
Sangkia    
    
Karakteristik bambu memang mengharuskan adanya modifikasi pada bentuk sejumlah alat musik hasil inovasi Abah Dasep.  Biola yang lazimnya berbentuk gitar mini dengan lekuk-lekuk di kedua sisinya, harus dibuat lurus memanjang. Begitu pula kecapi bambu yang permukaannya melengkung pada beberapa sisinya. Namun cara memainkannya tetap seperti alat aslinya agar tidak membingungkan pemakainya.
    
Aneka jenis alat musik bambu buatan Dasep diberi nama Sangkia. Asalnya dari aba-aba bagi kerbau dalam tradisi membajak sawah di kampungnya dahulu, yakni mider yang menjadi komando agar kerbau berputar dan kia yang merupakan perintah agar bergerak maju.
    
Ia berharap, sangkia dapat bermanfaat bagi kemajuan kesenian tradisi Sunda. Meski tergolong baru, sangkia sudah pernah tampil dalam sebuah pementasan seni di Belanda.
    
Keakraban bambu dengan masyarakat Sunda, bisa jadi lantaran 90 spesies bambu dari 127 tanaman bambu ada di Bumi Priangan. Pemakaiannya melekat dalam kehidupan tradisional sejak berabad silam mulai dari bahan pembuat rumah, jembatan, perkakas rumah tangga, sampai alat musik.  Membanjirnya barang-barang plastik, sejak dekade 1960-an, menggeser peralatan tradisional.
    
Nasib alat musik dari bambu setali tiga uang. Dari sekian banyak alat musik tradisional, masyarakat kini hanya akrab dengan suling atau angklung. "Sekarang ada kecenderungan teknologi akan membunuh tradisi," kata Dasep prihatin.
    
Mestinya, kata Dasep, seni tradisi ini harus bisa mengikuti perkembangan teknologi agar tidak tergilas roda zaman. Ia sendiri tidak keberatan generasi penerus kelak memodifikasi teknologi terhadap alat musik bambu ciptaannya.
     
Abah Dasep mengaku,  bagian tersulit adalah mencari dan memodifikasi bentuk alat musik sesuai dengan karakteristik bambu agar dapat menghasilkan suara seperti alat musik aslinya yang tidak terbuat dari bambu.
    
Alat seni yang diproduksi Abah Dasep ini ternyata sudah melanglang dunia seperti  biola taua piul sudah dikirim ke Shanghai China dan  Qatar. Sedangkan  Kacapi Gintung pernah mendapat pesanan dari Eindhopen Belanda.  “Saat ini saya sedang membuat gitar dan bass pesanan  Mr. Hans orang Norwegia yang pernah datang ke sini,” ucap  lelaki yang juga seniman tari tersebut
    
Dasep menggeluti seni sejak remaja, khususnya seni tari. Tari Jaipong-lah yang telah membawanya melanglang buana ke berbagai negara bersama maestro tari Jaipong Gugum Gumbira yang terkenal dengan Jugalanya.
    
Abah Dasep  menyatakan  siap menularkan ilmunya,  dan di tempat ini (Jalan Loader No. 2-red) InsyaAllah saya akan membangun café Budaya,” pungkasnya. (redaksi)

    
    

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button