Ketika Tunas-Tunas Bangsa Bertumbangan Sebelum Berkiprah

By Redaksi 15 Nov 2016, 19:06:09 WIB | dibaca: 637 pembaca 

Ketika Tunas-Tunas Bangsa Bertumbangan Sebelum Berkiprah

BOGORnews.com ::: Pagi itu, cuaca tidak terlalu panas. Awan tipis masih menggelayuti langit Kota Bogor. Sinar matahari tidak terlalu terik, matahari masih malu-malu menampakan dirinya. Bahkan boleh dibilang sedikit mendung. Maklum, malam hingga subuh Kota Bogor diguyur hujan.

 Saat itu, jam menunjukan pukul 07. 30 pagi. Para peserta upacara Hari Sumpah Pemuda mulai dari unsur TNI, Polri, Muspida dan pelajar sudah berkumpul  di halaman Plaza Balaikota, Kota Bogor. Mereka berbaris rapi, siap mengikuti upacara.

Kapolresta Bogor Kota, AKBP Suyudi Ario Seto menjadi inspektur upacara Hari Sumpah Pemuda. Ia pun langsung menuju podium untuk memimpin upacara. Lima belas menit upacara berlangsung, barisan peserta upacara masih tampak normal-normal saja.

Namun memasuki menit ke-20 dari barisan pelajar, satu persatu mulai "bertumbangan". Puncaknya ketika seorang pelajar kelas sembilan jatuh pingsan dengan posisi telungkup.

"Gedebuk...." terdengar dengan keras bunyi suara benda yang jatuh ke lantai. Suara tersebut sedikit memecah konsentrasi para peserta upacara. Penulis yang berada sekitar 10 meter pun sempat mendengar suara tersebut.

Pelajar yang jatuh pingsan tersebut kemudian oleh petugas protokol dibawah ke pos terdekat yang tak jauh dari lokasi upacara untuk mendapatkan pengobatan. Lukanya cukup parah, dagunya sobek lantaran mencium lantai halaman Plaza Balaikota.

Ternyata yang tumbang tidak hanya pelajar tersebut. Ada sekitar 10-15 pelajar lain yang lemas dan lunglai tak berdaya. Hampir sebagian besar mengalami gejala yang sama seperti tumbang. Perut mual, muka pucat, badan lemas dan kepala pusing-pusing.

 Akhirnya para pelajar yang jatuh pingsan saat mengikuti upacara Hari Sumpah Pemuda dibawa menggunakan kendaraan ambulan dan mobil milik Satpol PP Kota Bogor ke rumah sakit terdekat.

Penulis mencoba mencari tahu penyebab para pelajar kompak tumbang. Dari semua pelajar yang ditanya didapat jawaban yang hampir sama, tidak (biasa) sarapan!  Bila pun sarapan, sarapannya asal-asalan. Jawaban membuat kita merasa miris. Bagaimana mungkin pelajar yang notabene setiap harinya akan melakukan aktifitas Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) hingga pukul 13.00 siang, sama sekali tidak sarapan pagi.

Tumbangnya tunas-tunas bangsa bukan kali pertama terjadi dalam kegiatan upacara yang diadakan di Balaikota. Dari setiap upacara yang pernah penulis ikuti, sedikitnya 10-15 pelajar tidak kuat melanjutkan upacara atau pun jatuh pingsan.

Padahal kalau kita merunut dari belakang, sarapan pagi sudah menjadi tradisi yang turun temurun bagi mazyarakat Indonesia. Tidak hanya bagi warga bogor saja.

Menurut Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P3PL) Dinkes Kota Bogor dr Edi Darma yang dijumpai penulis saat mengikuti Kampanye Sarapan Sebelum Jam 9 yang diadakan oleh Energen, Minggu (13/11/2016) mengungkapkan adanya pergeseran nilai di masyarakat.

"Dulu, kita diajarkan secara turun temurun untuk selalu sarapan sebelum melakukan aktifitas di pagi hari. Sekarang perhatian para orang tua sangat minim. Para orangtua lebih suka membekali anaknya dengan uang," terangnya

"Padahal di sana sumber masalahnya. Dengan membekali anak-anaknya dengan uang, orangtua telah melepaskan kontrolnya. Para orangtua tidak tahu, apa yang dimakan oleh anaknya. Mereka telah melepas kontrol terhadap  komposisi gizi, kandungan pada makanannya dan tingkat kesehatan," terangnya.

"Kemajuan teknologi yang semakin canggih menyebabkan banyak orang yang melupakan sarapan pagi. Mereka asyik  dengan teknologi masa kini. Dengan adanya edukasi yang saat ini gencar dilakukan memberikan pengetahuan kepada masyarakat betapa pentingnya sarapan pagi yang sehat beserta komposisinya," pungkasnya.

Pentingnya sarapan sebelum jam 9 terutama bagi  anak-anak yang duduk dibangku sekolah, sudah lama didengungkan.
Ketua PERGIZI PANGAN Indonesia Prof Dr dr Hardinsyah MS dalam berbagai kesempatan telah menyampaikan beberapa  dampak buruk yang akan menimpa seseorang yang melewatkan sarapan.

"Perut kosong karena tidak sarapan, gak enak juga. Semangat kerja jadi melempem. Kinerja otak pasti akan terganggu. Apalagi bagi pelajar, bisa lambat berpikir untuk menerima pelajaran di kelas," ujarnya saat ditemui di GOR Pajajaran, Kota Bogor, Minggu (13/11/2016).

Untuk itu ia mengingatkan agar orang tidak menyepelekan sarapan pagi dengan menu sehat. Pasalnya, masih banyak  masyarakat Indonesia belum begitu paham akan pentingnya gizi sarapan untuk mendukung aktifitas keseharian. Baca juga Akibat Tidak Sarapan Pagi 20 Pelajar Tumbang

"Sarapan yang sehat itu syaratnya ada dua, waktu yang tepat dan komposisi yang tepat. Untuk waktu sarapan yang tepat adalah sebelum jam 9 pagi. Sedangkan komposisi yang tepat adalah menu sarapan harus mengandung karbohidrat, protein, lemak, serat, vitamin dan mineral yang bisa memenuhi gizi seperempat gizi harian," bebernya. So, masih menyepelekan sarapan pagi? *(Dimas Fery - Penulis adalah reporter www.bogornews.com)







Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Media Digital Bogor Radio


>>>Download MDB Radio APP<<<

Script Link MDB Radio

Temukan juga kami di

Jejak Pendapat

Kota Bogor Menurut Anda Saat Ini ?
  Bertambah Indah
  Bertambah Bersih
  Bertambah Macet
  Tidak Perduli

Komentar Terakhir

  • Cetak Spanduk

    Waduuh,, menyalahi aturan tuh. Mana spanduk rokoknya dicetak dalam ukuran yang besar ...

    View Article
  • Program Kasir

    Makin rusak aja nih pergaulan anak zaman sekarang. Harusnya ada program atau aturan ...

    View Article
  • Harga Speaker Terbaik

    Harga Speaker Terbaik ...

    View Article


BOGOR WEBSITE