Wacana Pemindahan Ibu Kota ke Kalimantan sudah digagas Presiden Soekarno

By Redaksi 30 Agu 2019, 23:22:13 WIB Pemerintahan
Wacana Pemindahan Ibu Kota ke Kalimantan sudah digagas Presiden Soekarno

Keterangan Gambar : Rachmat Iskandar dan Iyan Sofyan (Buku Sukarno & Desain Rencana Ibu Kota RI di Palangkaraya)


BOGORnews.com ::: Pemindahan Ibukota Republik Indonesia (RI) ke Kalimantan sudah di wacanakan oleh Presiden Soekarno. Kini wacana tersebut kembali di gulirkan Presiden Joko Widodo

Di dalam tulisan ini saya akan sedikit membahas rencana pemindahan ibukota negara yang pernah digagas dan dirancang oleh Bung Karno, Presiden RI pertama. Sukarno adalah lulusan dari Technische Hogeschool Bandoeng, sekarang ITB, pada tanggal 25 Mei 1926. Sempat mendirikan biro arsitek bersama Ir.Anwari pada 1928 dengan nama Biro Insinyur Soekarno & Anwari.

Soekarno tidak lama bergelut dalam biro tersebut karena pada tahun 1929 ditangkap Belanda. Setelah dibebaskan pada tahun 1939, ia kembali mendirikan biro arsitek bersama Ir. Roosseno.

Baca Lainnya :

Gagasan Bung Karno tentang upaya pemindahan Ibukota RI diperoleh dari sebuah buku kecil karya Wijanarka, sarjana teknik arsitektur lulusan Universitas Katolik Soegijapranata Semarang tahun 1966.

 Ia yang memulai jadi staf pengajar di Unversitas Palangkaraya  tahun 1997, adalah dosen yang aktif menulis kajian-kajian tentang penataan kota.

Buku dimaksud berjudul : Sukarno & Desain Rencana Ibu Kota RI di Palangkaraya. Diterbitkan oleh Penerbit Ombak, Yogyakarta, tahun 2006.

Menariknya buku tersebut diberi Kata Pengantar oleh Guruh Sukarno Putra. Komentar dalam buku tersebut antara lain : " Salah satu temuan dalam penelitian Saudara Wijanarka adalah koneksi imajiner antara Kota Palangkaraya dan Kota Jakarta yang disimbolkan dengan Lapangan Bundar Besar dengan Lapangan Monumen Nasional"

Dengan latar belakang pendidikan teknik sipil, banyaknya membaca tentang buku arsitektur terbitan mancanegara dan kebiasaannya mengunjungi tempat tempat bersejarah dan arsitektur, telah membuka alam fikir dan konsep konsep yang memberi pengaruh kepada proses perancangan sebuah kawasan  peruntukkan Ibukota baru.

Kenapa Soekarno memilih Palangkaraya, sebuah kota nun jauh di Kalimantan sebagai  ibukota baru pengganti  Jakarta dan kemudian tidak terlaksana.

Soekarno tak hanya   mewacanakan pemindahan ibukota baru di Kota Palangkaraya. Namun ia juga mengunjungi kota tersebut dua kali. Kunjungan yang pertama pada 14-20 Juli 1957 dan 7-10 September 1959. Hasil kunjungan tersebut digunakan sebagai salah satu bahan pemikiran untuk membangun Palangkaraya pengganti Jakarta sebagai ibukota RI.

Embrio Kota Palangkaraya didesain dengan prinsip sumbu. Sumbu tersebut menjadi sumbu simbolik yang mungkin nenjadi kota besar sebagai sebuah pusat kota.

Definisi Konsep Sumbu Kota antara lain mengkoneksikan suatu obyek dengan obyek yang lain. Di dalam sumbu tersebut dirancang dengan memperhatikan keberadaan unsur bangunan, pepohonan, "street furniture" kota dan reklame yang tidak menghalangi sumbu.

Hal ini dimaksudkan agar koneksitas visual secara fisik dan simbolik yaitu secara imajiner terpelihara. Bila memperhatikan akhir koneksi imajiner Palangkaraya yang ke arah barat daya, Jakarta yang merupakan pusat Pemerintahan RI, politik, ekonomi, sosial budaya dan juga investasi, kini tak lagi melirik Kota Palangkaraya. Sebuah konsep pemindahan Ibu Kota pengganti Jakarta yang dirancang Bung Karno tahun 1957.  Hingga kini tapak-tapak dan ciri sebuah Ibu Kota baru masih ada dan kita saksikan di Kota Palangkaraya.

Tak bisa disangkal bahwa koneksi imajiner antara Kota Palangkaraya dan Kota Jakarta yang disimbolkan dengan Lapangan Bundaran Besar dengan Lapangan Monumen Nasional. Rancangan keduanya melambangkan makna nasional untuk Lapangan Bundaran Besar dan secara internasional untuk Lapangan Monumen Nasional.

Dalam amanatnya saat Bung Karno meresmikan Kota Palangkaraya pada tanggal 17 Juli 1957, jadikanlah Kota Palangkaraya ini menjadi Kota Modal dan Model. Jangan membangun bangunan disepanjang tepi Sungai Kahayan dan lahan disepanjang tepi sungai tersebut hendaknya diperuntukkan bagi taman. Sehingga pada malam hari yang terlihat hanyalah kerlap-kerlip lampu indah. Pada saat orang melewati sungai tersebut.

Namun sejak akhir tahun 1959, konsep-konsep desain rencana Ibu Kota RI yang sedang diterapkan dalam pembangunan Kota Palangkaraya perlahan memudar. Beberapa catatan batalnya Palangkaraya menjadi Ibu Kota Republik Indonesia adalah keberadaan sejarah Kota Jakarta, desakan para duta besar negara sahabat dan agenda Republik Indonesia tentang even-even internasional.

Kini seandainya ada kaseriusan dari Pemerintah, Ibu Kota harus pindah maka ada beberapa alasan pemikiran dan pertimbangan yang harus dikaji sangat mendalam.

Presiden Joko Widodo menyetujui pemindahan Ibu Kota dengan daerah di luar Pulau Jawa sebagai pilihannya. Menurut versi pengamat yang dirumuskan oleh Akhli/ Peneliti Perkotaan Nirwono Joga dan Yayat Supriatna adalah :

Ø Secara proporsional, daerah itu harus menjadi wajah Indonesia baru ke depan.

Ø Kota itu mengedepankan kekuatan lingkungan berbasis ramah lingkungan.

Ø Didukung dengan sistem utilitas.

Ø Didukung dengan sistem transportasi yang memadai, hemat serta, efisien dari sisi pergerakan dan mobilitas.

Ø Aman dari bencana, seperti gempa, asap, kebakaran dan banjir.

Ø Infrastruktur daerah tersebut sudah siap bukan membangun dari nol.

Ø Kota tersebut merupakan "smart city".

Ø Sarana air di kota itu terpenuhi secara mandiri.

Adapun versi dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, adalah :

Ø Kota tersebut harus memiliki kondisi alam yang stabil.

Ø Memiliki potensi bencana alam yang sangat kecil.

Ø Di daerah tersebut harus terdapat ketersediaan tanah milik negara yang besar, sehingga pemerintah tidak perlu melakukan pembebasan lahan. 

Penulis : Rachmat Iskandar
(Penggiat Benda Cagar Bogor) 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment