Kakak Beradik Itu Tewas Saat Air Bah

Magelang – Suasana sedih dan pilu mengakhiri acara wisata bersama delapan mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga yang seharusnya gembira dan bahagia. Terlebih lagi, dua rekannya Natanail (21) dan Debora alias Deby (panggian) warga Demak, Jawa Tengah ini tewas secara bersamaan dalam musibah banjir akibat air bah.

Kedua saudara kandung itu tewas seketika usai diterjang air bah usai hujan deras melanda disekitar obyek wisata air terjun kedung Kayang Desa Wonolelo, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jateng.

Duka mendalam dialami Sisca Purniawati(21) mahasiswa semester IV Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) yang untuk terakhir kalinya usai kejadian memegang tangan Deby. Wajahnya pucat pasi dan suaranya parau serta terus sesenggukan. Matanya berlinang air mata, badannya menggigil, dan tatapannya kosong.

Seolah tidak percaya lepasnya tangannya dari genggaman tangan Deby berakibat ketiga rekannya tewas secara tragis akibat terseret sejauh 1 kilometer oleh air bah yang datang dengan tiba-tiba di Kali Pabelan.

Saat ditemui, dia bersama dengan dua rekannya yang selamat Windi Kumala Dewi dan Mursiutami. Dua rekan yang selamat, yakni, Fandi Dwi Nugroho dan Susi Lestari sedang dimintai keterangan oleh petugas kepolisian.

Ketiganya nampak sedang menenangkan diri di halaman rumah warga paling dekat dengan objek wisata itu. Beberapa warga yang merasa iba dengan musibah yang dialami kelompok mahasiswa itu, mencoba turut menenangkan. Mengajak untuk bersabar dan ikhlas menerima cobaan yang telah terjadi.

“Sabar ya mbak, sudah kuasanya yang diatas,” ucap ibu-ibu warga setempat menenangkan ketiga mahasiswi itu.

Dengan kondisi yang masih belum stabil, dan terbata-bata, ketiganya akhirnya menceritakan kejadian maut yang baru beberapa menit mereka lewati.

“Kami berangkat dari Salatiga, awalnya hanya ke obyek wisata Ketep Pass, namun kita sepakat melanjutkan ke Air Terjun Kedung Kayang yang jaraknya berdekatan,” tutur Sisca kepada detikcom, kamis (5/1/2011).

Sekitar pukul 14.30 WIB, akhirnya mereka berdelapan sampai di lokasi wisata air terjun itu. Mereka berdelapan mengendarai empat sepeda motor.

“Saat datang, di sini (Kedung Kayang) hujan deras, dan kita sempat berteduh dulu," kata Mahasiswi Jurusan Matematika ini.

Setelah sekitar 15 menit menunggu, hujan pun reda. Mereka memutuskan untuk menuju ke air terjun yang jaraknya kurang lebih 500 meter dari lokasinya menitipkan sepeda motor.

“Karena memang sudah tidak hujan, kita turun saja ke sungai,” terang Sisca.

Untuk menuju ke air terjun, mereka harus menyusuri sungai sepanjang 300 meter. Masih dengan suasana riang gembira dan penuh canda, mereka pun mulai menyusuri sungai dan berhasil menepi di seberang sungai.

“Saat menyebrang, aliran sungai tidak besar, hanya setinggi mata kaki. Belum sampai di sebrang sungai, tiba-tiba banjir datang. Awalnya banjir tak terlalu besar, namun hanya dalam hitungan detik, banjir dengan debit air yang lebih besar menyusul. Banjirnya besar sekali, kita ketakutan,” papar Sisca.

Sisca menggambarkan di sebrang sungai tempat mereka berdiri hanya ada tebing dan tidak ada tempat yang aman untuk menyelamatkan diri dari ancaman banjir.

Khawatir banjir yang datang makin besar dan mereka akan terbawa arus, mereka pun sepakat untuk menyebrangi sungai.

“Kita putuskan untuk menyebrang. Caranya kita berdelapan bergandengan tangan dan mencoba berjalan beriringan,” ucap Sisca sambil membasuk air matanya yang jatuh di pipi sesekali.

Saat hendak menyeberang, ketiga korban meninggal ada di posisi paling depan. Pertama Natanail, disusul Dwi Susanti yang sudah lama dekat hubunganya dengan Natanail dan adik kandungnya Natanail Debora alias Deby lalu dirinya (Sisca).

Beriringan di belakangnya Windi Kumala Dewi lalu Mursiutami, lalu Fandi Dwi Nugroho dan Susi Lestari. Mereka berdelapan sepakat untuk saling berpengangan erat. Baru beberapa langkah menerjang banjir, tiba-tiba aliran air menjadi lebih besar. Dengan masih berpegang tangan, tiga orang terdepan mulai terseret derasnya arus sungai.

“Deby teriak dan mengeluh kalau dia sudah tidak kuat, lalu pegangan kami terlepas,” ungkap Sisca, orang terakhir yang berpegangan tangan dengan tiga korban.

Akhirnya, terputuslah pegangan kuat itu dan ketiganya terseret arus air bah yang sangat deras. Bahkan ada beberapa warga yang melihat dan mendengar teriakan mereka sempat melakukan pertolongan dengan melempar seutas tambang namun tak merubah keadaan.

“Saya sudah berteriak ada warga yang menolong dengan melemparkan seutas tambang tapi tidak bisa diraih ketiganya,” kenangnya sambil mengusap kembali matanya yang sembab.

Setelah itu, mereka berlima yang selamat terdiam. Pikiran mereka buntu, perasaan kacau dan hanya bisa pasrah. "Kita akhirnya menepi di cekungan di tebing. Tidak ada tempat lain," tambah Sisca.

Selama setengah jam mereka berdiri, kedinginan di bawah tebing setinggi 30 meter itu. Hingga, akhirnya datanglah dua warga yang memberikan pertolongan. Mereka dibopong satu persatu menuju ke sebrang sungai tempat mereka masuk.

Sampai detikcom meninggalkan para korban selamat, mereka masih belum berani memberikan kabar duka itu kepada keluarga korban. Mereka mengaku bingung untuk menerangkan kejadian itu kepada keluarga korban.

(her/fiq)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button