Mom, Kenali Gejala Dini Skoliosis pada Anak

By Redaksi 03 Okt 2020, 16:45:06 WIB | dibaca: 140 Kesehatan

Mom, Kenali Gejala Dini Skoliosis pada Anak

Media Digital Bogor

BOGORnews.com ::: Posisi duduk yang keliru ternyata dapat mengganggu perkembangan tulang belakang anak. Salah satunya akan berisiko skoliosis. Jika tidak segera ditangani, hal itu akan mempengaruhi postur tubuh hingga mengalami gangguan jantung.

Hal tersebut dikemukakan Dokter Spesialis Ortopedi dari Siloam Hospitals Bogor, dr Peterson S SpOT(K) disela bincang sehat webinar bersama Sekolah Dian Harapan Daan Mogot, Jakarta Barat, Jumat (2/10/2020).

"Skoliosis adalah kondisi di mana tulang belakang melengkung, seperti huruf C atau S. Skoliosis lebih sering ditemukan pada anak-anak sebelum masa pubertas, yaitu sekitar usia 10-15 tahun. Skoliosis yang terjadi biasanya ringan, namun dapat berkembang menjadi lebih parah seiring pertambahan usia, khususnya pada wanita,"ujarnya.

"Bila skoliosis menjadi parah, bisa menyebabkan penderitanya mengalami gangguan jantung, paru-paru, atau kelemahan pada tungkai."
 
Lebih lanjut, dr Peterson mengatakan, cara mengetahui anak mengalami gejala dini Skoliosis adalah dengan menempatkan anak di ruangan yang luas dan sepi dengan lepas baju dan celana, jaga privasi anak dari pandangan orang lain.

"Setelah itu, minta anak berdiri tegak dan posisi orangtua di belakang punggung anak lalu di depan anak. Kemudian anak diminta membungkuk."

Hal itu dilakukan, katanya, dengan penilaian tentang kesejajaran bahu kedua sisi, kesejajaran tonjolan tulang belikat, kesejajaran lipatan pinggang, kesejajaran kedua siku, kesejajaran pinggul.

"Jika melihat adanya tanda tanda asimetris atau ketidakseimbangan komposisi dalam pemeriksaan orangtua, setidaknya ada tiga tanda pada bahu, pada punggung dan tulang pinggul,” ungkapnya.

Sementara itu, Dokter Rehabilitasi Medis di Siloam Hospitals Bogor dr Nur Indah Lestari SpKFR menambahkan, adapun klasifikasi skoliosis terbagi menjadi empat, yaitu Infantile (0-2 tahun), 
Juvenile (3-9 tahun), Adolescent (10-17 tahun), Adult (18 tahun+).

"Faktor risiko skoliosis adalah jenis kelamin dan lebih dominan terjadi pada anak perempuan. Hal itu diduga karena faktor gen dan keturunan. Tahap pertumbuhan tulang, lokasi kurva, defek jaringan ikat, rotasi tulang belakang, dan riwayat keluarga," jelasnya.

Menurut dr Nur, adanya penanganan skoliosis sejak dini bermanfaat pada peningkatan kualitas hidup, estetika, menghindari nyeri punggung, dan fungsi pernafasan tidak terganggu jika bertambah dewasa.

"Sedangkan tujuan pengobatan/pemulihan (exercise) adalah untuk memperbaiki ketidak seimbangan otot, meningkatkan kekuatan otot, mengurangi nyeri, memperbaiki kontrol postur, dan memperbaiki fungsi respirasi, serta meningkatkan fleksibilitas,” tutupnya. (Rls/DF).






Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Video Terbaru

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Iklan Bogor News