Sampai Kiamat Macet Hingga Wagiman
Walikota Bogor Dari Masa Kemasa (Bag.2 Selesai)

By Redaksi 13 Jun 2018, 10:25:53 WIB | dibaca: 922 pembaca 

Sampai Kiamat Macet Hingga Wagiman

Drs.Eddy Gunardi saat menerima Penghargaan Piala Wahana Tata Nugraha Langsung Dari Presiden Soeharto




<.br>

BOGORnews.com ::: Bogor adalah salah satu kota di Indonesia yang memiliki sejarah pemerintahan yang panjang. Dari sebuah ibu Kota kerajaan Pajajaran yang dikenal dengan nama Pakuan Pajajaran semasa Sri Baduga Maharaja (1482) Gemeente Buitenzorg (1905), Kota besar dan nyambung menjadi Kotamadya (1965) sampai menjadi Kota Bogor (1999)

Dalam tulisan bagian ke dua BOGORnews.com akan memaparkan sekilas tentang Walikota Bogor mulai dari periode tahun 1994 sampai sekarang. Baca Juga : Dari Walikota Joki Kuda Hingga Walikota Gila Bola

5. Drs.Eddy Gunardi (1994-1999)

Sebelum menjabat Walikota Kota Bogor, Eddy Gunardi menjabat Wakil Bupati Kabupaten Bogor pada masa kepemimpinan Bupati Eddy Yoso Martadipura. Pada masa kepemimpinan terjadi beberapa musibah kebakaran besar  antara lain Pasar Anyar dan pusat perbelanjaan Internusa.

Musibah kebakaran Pasar Anyar Bogor menewaskan 10 orang.  Kejadian kebajaran tersebut sempat menggebohkan pemberitaan Nasional karena  ada pernyataan Walikota Bogor yang menyebutkan “Mayat Kucing”. Meski akhirnya di klarifikasi bahwa pernyataan tersebut muncul bukan dari Walikota, tapi muncul dari salah satu wartawan.  

Sedangkan beberapa prestasi yang diraih Kota Bogor yang perlu menjadi catatan sejarah d Era Walikota Eddy Gunardi yaitu berhasil memperoleh piala Adipura, PSB berhasil masuk ke kelas bergengsi, Divisi Utama PSSI, dan meraih penghargaan Wahana Tata Nugraha, yaitu bentuk penghargaan untuk tertib lalu lintas.

Eddy Gunardi lah yang menyatakan bahwa sampai kiamat pun masalah kemacetan lalu-lintas di Kota Bogor tidak akan hilang. Pernyataan Eddy Gunardi itu melekat hingga sekarang. Ada benarnya jika kita simak masalah lalu-lintas hingga saat ini masih tetap menjadi salah satu penyakit perkotaan yang tak pernah sembuh.

Di era Eddy Gunardi, Kota Bogor mengalami perluasan wilayah yang mengacu kepada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1995 tentang Perubahan Batas Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Bogor dan Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor. Luas wilayah Kota Bogor semula 2.156 Ha menjadi 11.850 Ha. Perluasan wilayah tersebut dengan memasukan sebagian wilayah Kabupaten Bogor.  Dengan perluasan wilayah, Kota Bogor memiliki 68 Kelurahan dengan 6 Kecamatan.

Pada kepemimpinan Eddy Gunardi ada peristiwa penting di Kota Bogor yaitu penyelenggaraan Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) atau kerja sama ekonomi Asia Pasifik yang di gelar d Istana Kepresidenan Bogor.

6. R. Iswara Natanegara S.H (1999-2004)

Iswara Natanegara adalah Walikota pertama yang dilantik pada era otonomi daerah. Ia dilantik sebagai  Walikota Kepala Daerah Tingkat II  Kota Bogor pada tanggal 7 April 1999. Selama memimpin Kota Bogor Iswara banyak menyandang penghargaan, baik di tingkat Jawa Barat maupun Nasional.  Tercatat di masa jabatannya, kota hujan ini telah meraih 21 penghargaan. Bahkan, Musium Rekor Indonesia (MURI) mencatat nama Iswara Natanegara sebagai Kepala Daerah di Indonesia yang terbanyak menerima penghargaan.

Untuk membantu pelaku usaha kecil dan menengah, Iswara menggulirkan program Garda Emas atau Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat. Program tersebut untuk membantu permodalan para pedagang kecil. Perkembangan usaha masyarakat kecil dan menengah mulai tumbuh, seperti pembudidayaan talas di Situ Gede, lidah buaya di Rancamaya dan jambu batu di Sukaresmi. Berkembang pula pusat kerajinan di wilayah Kecamatan.Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) yang selama ini mati suri mulai hidup kembali. Berbagai pameran kerajinan, seni kriya, kuliner khas Bogor sering diikuti oleh Pemkot Bogor, baik di tingkat Provinsi maupun Nasional.

Iswara menaruh perhatian terhadap kesenian tradisional hubungan budayawan, seniman dan pemerintah terjalin baik. Gelar budaya seperti Helaran secara rutin setiap tahun diselenggaran oleh Pemkot dan Disparbud Kota Bogor.

Di masa pemerintahanmya juga dibangun underpass Jalan Pajajaran untuk perlintasan pengunjung Kebun Raya (KRB) yang turun di Terminal Bus samping Botani Square (Sekarang Terminal Bus Damri rute Bandara). Selain itu juga dilakukan pemindahan pasarTradisional Ramayana (sekarang BTM) ke Pasar Induk Jambu Dua.

Terminal Bubulak milik Pemkot Bogor dan Terminal Laladon milik  Pemkab Bogor dibangun dimasa Pemerintahan Iswara.  Pembangunan  dua terminal oleh dua Pemda yang berjarak sekitar 500 itu telah menimbulkan polemik yang berkepanjangan. Ego kedaerahan lebih dikedepankan sehingga dua Terminal berdiri di lokasi yang sama.  Begitu pula dengan konflik TPA Galuga. Tanah TPA Galuga milik pemkot Bogor namun lokasinya terletak di Kabupaten Bogor. Hal ini membuat kerancuan pada pengelolaan TPA.

7. Drs.Diani Budiarto (2004-2014)

Penetapan Diani Budiarto sebagai Walikota Kota Bogor, menjadi catatan sejarah. Karena untuk  pertama kali melalui pilihan rakyat. Diani juga terpilih untuk kedua kali sebagai Walikota periode 2009-2014.

Pada masa kepemimpinan Diani tercatat perkembangan Kota Bogor yang erat berkaitan infrastruktur dalam konstelasi Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi , Depok, Sukabumi dan Cianjur. DKI Jakarta telah menjadi Megapolitan.

Maka proyek infrastruktur, jaringan jalan raya tidak bisa demi kepentingan lokal semata, namun telah menyeluruh, banyak terkait dengan kota-kota besar di luar Kota Bogor. Salah satu aspek  paling utama di dalam masalah perkotaan adalah, persampahan dan keberadaan  pedagang kaki lima (PKL). Berbagai upaya telah dilakukan oleh walikota-walikota sebelumnya. Pada masa Dianilah masalah PKL bisa ditertibkan walau tidak signifikan. Ratusan PKL yang menempati areal sepanjang jalan Sholeh Iskandar berhasil dibersihkan. Penertiban ini sangat terkait dengan pembangunan Bogor Outer Ring Road (BORR), yang mulai gencar dibangun saat Diani menjadi orang nomor satu di Kota Bogor. 

Untuk memberikan rasa nyaman kepada para pejalan kaki dibangun pedestrian sekitar Stasiun Bogor hingga Taman Topi. Pedestrian yang dibangun di era Diani mengawali pembangunan pedestrian di Jalan Kapten Muslihat, Jalan Ir. H. Juanda dan seputar Kebun Raya.

Sebuah catatan sepanjang sejarah Kota Bogor pada era Diani adalah kunjungan Presiden Amerika Serikat, George Walker Bush pada 20 November 2006. Kunjungan Presiden dari negara adi kuasa di dunia ini telah memberi kenangan tersendiri bagi kota dan warga Bogor.

Ada hal hal menarik di masa pemerintahan Diani Budiarto.  Dua periode memimpin Kota Bogor, Diani menggulirkan program Pemberdayaan Ummat Berbasis Masjid. Diani berkeinginan masjid menjadi pusat pembinaan mental dalam membebaskan umat dari kemiskinan, keterbelakangan dan kebodohan serta keterpurukan martabat manusia.

Melalui program ini, Diani hampir setiap hari mengunjungi masjid – masjid untuk sholat shubuh berjamaah yang lebih dikenal Suling (Shubuh Keliling). Kegiatan ini sekaligus untuk memantau kondisi wilayah. Tak hanya itu, Diani yang berpasangan dengan Achmad Ru’yat pada periode kedua juga mewajibkan aparat Pemkot Bogor Ngaji Shubuh atau lebih dikenal program “Ngasuh” di Balaikota Bogor.

Namun tak bisa dihapus oleh apa pun, di era Diani banyak bangunan, struktur dan kawasan cagar budaya tergusur oleh pesatnya perkembangan dan pembangunan kota. Bangunan hotel, restoran, pusat jajanan, cafe, dan bangunan sejenis lainnya bermunculan di kawasan cagar budaya atau pada zoning zoning yang terbebas dari bangunan komersial.

Satu catatan budaya yang perlu disimak agak tidak terulang ke depan adalah penggusuran bangunan-bangunan bergaya Indische di kawasan sekitar Tugu Kujang.Kini di kawasan itu muncul Hotel Amarossa yang sempat digugat seniman dan budayawan Bogor.

8. Dr. Bima Arya Sugiarto (2014-2019)

Bima Arya Sugiarto adalah sosok politikus,terpilih sebagai  walikota yang diusung oleh partai politik.  Namun di balik itu, Walikota berusia muda yang enerjik tersebut ternyata pencinta dan pemerhati taman dan lingkungan kota. Mengingkatkan kita kepada Enrique Penalosa sang Walikota Bogota, Kolumbia, yang gila taman, pedestrian dan sepeda.

Tak ayal langkah pertama yang dilakukannya adalah pembenahan sekitar kawasan taman dan taman-taman kota yang selama ini terlantar. Kini muncul taman-taman kota yang tematik. Didesain dengan pendekatan skala yang lebih  manusiawi, fungsional dan terarah.

Pada masa kepemimpinan Bima Arya sebagai Walikota, hubungan antara Istana Merdeka dan Balaikota tampak lebih erat dan dekat. Hubungan ini diperkuat seringnya Presiden Joko Widodo berkantor di Istana Bogor, rapat rapat resmi pemerintahan dan seringnya kedatangan tamu kenegaraan yang berkunjung dan pertemuan resmi di Kota Bogor.

Pembenahan dan penataan sekitar Istana dan Kebun Raya merupakan prioritas utama. Begitu pula dengan sistem satu arah lalu lintas seputar Istana dan penataan pedestrian lebih menunjukkan wajah dan tampilan Kota Bogor yang ramah, hijau dan asri. Bayang bayang sebuah Kota Taman, sebuah Garden City impian Ebenezer Howard dan Ir. Thomas Karsten mulai tampak. Adagium Kota Sejuta Angkot itu pelan-pelan akan tergantikan Kota Sejuta Taman. Kota yang ramah dan hangat oleh hembusan angin tropis.

Namun ada catatan yang tidak akan terlupakan oleh masyarakat Bogor di masa pemerintahan Bima-Usmar, dimana Bogor mendapat predikat Kota termacet kedua didunia setelah Cebu, Filipina menurut aplikasi navigasi dan lalu lintas Waze. Ironisnya, predikat kota termacet setelah sebelumnya Bogor mendapat predikat Kota dicintai didunia atauThe Most Lovable City atau kota favorit pilihan netizen di ajang kampanye global We Love Cities 2016. Bogor unggul dibandingkan 45 kota lain di 20 negara yang turut meramaikan ajang popularitas melalui media sosial.

Kini Kota Bogor tak hanya identik dengan Tugu Kujang, lebih lengkap dan menawan oleh kehadiran Tepas Salapan Lawang Dasakerta. Sebuah monumen yang dibangun atas prakarsa Pemerintah Kota Bogor dengan pendanaan dari Pemerintah Pusat didukung oleh kreasi para Seniman dan Budayawan dan peranan seorang Walikota yang Wagiman atau Seorang Walikota Yang Gila Taman.  Kehadiran Tepas Salapan juga melengkapi wajah Kota Bogor setelah Lawang Suryakancana yang lokasinya masih dalam satu Kawasan Cagar Budaya. (Selesai)

Penulis :
Rachmat Iskandar (Penggiat Cagar Budaya)

Editor :
Iyan Sofyan











Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Media Digital Bogor Radio


>>>Download MDB Radio APP<<<

Script Link MDB Radio

Temukan juga kami di

Jejak Pendapat

Kota Bogor Menurut Anda Saat Ini ?
  Bertambah Indah
  Bertambah Bersih
  Bertambah Macet
  Tidak Perduli

Komentar Terakhir

  • Organic SEO Service

    If you want to stay ahead in the modern online rat race, you have to up ...

    View Article
  • Liverpool

    Wow artikel luar biasa dan fantastis teman saya kerja bagus dan semoga sukses untuk ...

    View Article
  • Liga Inggris

    Masih kami tunggu info selanjutnya... Thanks! ...

    View Article