Sampai Kapan Buku Cetak Dapat Bertahan?

By Redaksi 13 Mei 2018, 16:34:56 WIB | dibaca: 164

Sampai Kapan Buku Cetak Dapat Bertahan?

Foto : Perpustakaan Keliling Kota Bogor




BOGORnews.com ::: Perkembangan jaman sudah cukup pesat. Penyederhanaan segala sesuatu yang dianggap rumit terus menerus dilakukan. Tidak terkecuali dari segi bahan bacaan.

Dulu kala, buku adalah satu-satunya sumber informasi yang dicari-cari oleh banyak orang sebelum eksisnya teknologi bernama internet. Pemandangan melihat orang hilir mudik sambil membawa buku di tangan sudahlah biasa. Begitu pula melihat penampakkan melihat orang membaca, baik di tempat umum atau kafe-kafe bisa dibilang lumrah. Buku, pernah menduduki masa kejayaan tersebut.

Coba bandingkan dengan realita saat ini, apa masih sering teman-teman jumpai orang-orang membaca buku? Masih sering mungkin jawabannya. Namun, seberapa sering teman-teman melihat orang-orang membaca buku fisik, bukan dari pdf atau ebook yang dibaca melalui gawai mereka?

Ya, nyatanya, seiring majunya perkembangan internet yang berbasis “kemudahan dalam genggaman”, keberadaan buku konvesional pun juga mulai beralih ke sesuatu yang lebih modern, seperti ebook atau bahkan penggunaan daring seperti mesin pencari google.

Hal itu mungkin bukan masalah bagi sebagian orang. Katanya, kemudahan dalam genggaman adalah segalanya. Memperoleh informasi saat ini pun tidak usah dibuat rumit katanya. Cukup kau bilang, “Okey google, apa itu konvergensi media?” Contohnya, dalam hitungan detik kau mungkin sudah menemukan apa jawabannya. Tidak perlu lagi susah-susah mencari-cari buku tentang media, lalu membolak-balikkan halamannya, dan membacanya kata per kata untuk menemukan jawabannya. Ya, kemudahan dalam genggaman adalah segalanya, katanya.

Tidak mengherankan memang mendengar data yang dipaparkan oleh IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) mengenai penurunan jumlah pembeli buku. Ya walaupun di balik menurunnya angka tersebut, masih bisa disyukuri karena minat baca yang meningkat.

Kenaikan angka minat baca itu perlu disyukuri tampaknya. Itu karena Indonesia masih dikabarkan krisis minat baca. Orang-orang cenderung lebih menyukai konten visual yang tidak membosankan dibandingkan membaca teks. Harga buku konvesional yang cenderung mahal juga menjadi salah satu faktor minimnya minat baca masyarakat.

Kebanyakan orang mungkin sependapat, ebook dapat membantu masyarakat dalam memperoleh bacaan yang murah, bahkan gratis.

Ya tetapi tetap saja, pro kontra pasti ada atas peralihan buku cetak ke ebook. Masih banyak yang akan memilih membaca buku cetak, namun tidak dapat dibilang sedikit juga orang yang mendukung banyaknya ebook yang beredar.

Seperti contohnya, Almira Putri Kirana, ia lebih suka baca buku lewat buku cetak. Tidak membuat pusing karena harus melihat layar gawai terus katanya.

Namun ada pula yang seperti Septi Amalia, ia lebih suka baca lewat gawai. Praktis, tidak perlu berat-berat bawa buku katanya.

Tapi, apa benar ebook dapat menggantikan peranan buku? Sayangnya tidak semua sependapat. Seperti kata Martinus Herlinsen, pemilik PT. Pacesetter Indonesia, “Tidak semua buku cetak bisa digantikan ebook, buku pelajaran masih butuh hardcopy”

Martinus juga menambahkan, buku cetak masih memiliki nilai lebih dibandingkan dengan ebook ataupun mesin pencari. Buku yang dicetak, dapat dijadikan sebagai barang bukti.

Memiliki buku cetak pun juga cenderung membawa rasa bangga bagi para pemiliknya. Kebanggaan tersebut muncul karena adanya wujud buku yang bisa dipamerkan ke orang-orang, terlebih lagi jikalau buku tersebut merupakan koleksi langka yang susah dicari, atau buku tersebut berisikan konten berbobot yang wajib dibaca oleh tiap orang.

Bisa dibayangkan dong bagaimana senangnya kita apabila punya buku langka cetakkan pertama? Jika saya yang punya sih akan saya sayang-sayang bukunya.

Walaupun peralihan buku cetak ke ebook belum bisa dipastikan dimulai sejak kapan, satu hal yang dapat dipastikan Martinus, “Buku-buku pelajaran cenderung akan tetap hadir dalam bentuk hardcopy, begitu pula buku-buku yang kontennya bagus. Akan selalu laku bentuk cetaknya,”

Ya pada ujungnya, membaca buku cetak ataupun ebook adalah pilihan masing-masing pembaca. Namun, saya sepakat dengan Martinus dan juga Almira, buku cetak lebih unggul dan lebih enak dibaca dibanding ebook.

Jadi, lebih tertarik baca buku konvesional atau ebook?

Penulis :
Nanda Saputri, Mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta






Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment



Media Digital Bogor Radio


>>>Download MDB Radio APP<<<

Script Link MDB Radio

Jejak Pendapat

Kota Bogor Menurut Anda Saat Ini ?
  Bertambah Indah
  Bertambah Bersih
  Bertambah Macet
  Tidak Perduli

Komentar Terakhir

  • minniepr4

    Hi reborn project http://emilie.goblog.allproblog.com/?post-mina asian pop star ...

    View Article
  • slot online

    trims info webnya. Jangan lupa kunjungi http://slotonline.asia ...

    View Article
  • plcmpj

    viagra online pharmacy net http://canadian-pharmacie.com <a ...

    View Article