Pudarnya Budaya Gotong Royong

By Redaksi 03 Jun 2017, 14:52:02 WIB | dibaca: 179 pembaca 

Pudarnya Budaya Gotong Royong

Warga Kelurahan Kencana Berinisiatif Membangun Sendiri Saluran Air di Pinggir Jalan. Foto : Arsip BOGORnews.com

BOGORnews.com ::: Laju perubahan sosial pada masyarakat tidak dapat dihindari. Karena perubahan sosial yang terjadi dimasyarakat tidaklah sama antara masyarakat yang satu dengan lainnya. Perkembangan masyarakat pasti akan terjadi dengan seiringnya berjalan waktu.

Misalnya, masyarakat kota lebih cepat dalam mengalami perubahan dibandingkan dengan masyarakat desa yang cenderung lebih lambat. Dengan sifat yang dinamis atau terbuka, orang yang hidup di kota-kota besar cenderung lebih terbuka dalam menerima perubahan yang terjadi dalam masyrakat. Sehingga pola pikir orang-orangnya lebih terbuka terhadap hubungannya dengan dunia luas dibanding masyarakat desa.

Bukan berati masyarakat desa tidak mengalami perubahan. Mereka juga mengalami perubahan, tetapi sifatnya lebih lambat.  Perubahan sosial sendiri, bukan hanya mengubah pola pikir seseorang, tetapi ia juga mengubah pola-pola perilaku, nilai-nilai sosial, organisasi, susunan pada lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan masyarakat dan masih banyak lagi.

Perubahan itu sendiri dapat dilihat dari, perubahan sikap masyarakat terhadap budaya yang melekat  di Indonesia. Salah satunya dengan budaya gotong royong. Gotong royong sendiri memiliki makna mengerjakan sesuatu secara bersama. Maka dapat dipahami gotong royong merupakan sikap partisipasi aktif setiap individu untuk terlibat dalam memberi nilai positif dari setiap obyek, permasalahan, atau kebutuhan orang sekitar.

Nilai-nilai positif yang diberikan dari partisipasi aktif ialah pemberian bantuan baik berupa fisik, sumbangan pikiran, nasihat dan lain-lain. menurut Koentjaraningrat yang di lansir dari laman majalah1000guru.net, budaya gotong royong yang dikenal di Indonesia dapat dikatagorikan dalam dua jenis, yakni gotong royong tolong menolong dan gotong royong kerja bakti.  

Contoh dari gotong royong di masyarakat bisa kita liat dari masyarakat yang membantu tetangganya dalam acara pesta pernikahan, kerja bakti membersihkan selokan. Bahkan dalam dunia perkuliahan, budaya gotong royong dapat dilihat dari organisa-organisasi kampus yang memiliki agenda kemanusiaan untuk membantu orang disekitarnya yang membutuhkan.

Betapa bermanfaatnya dari budaya gotong royong ini, masyarakat diajarkan bagaimana cara berbagi, kerjasama, dan dapat merasakan kesusahan satu sama lain, dan dapat menyelesaikan suatu masalah secara bersama.

Tetapi pada saat ini, akibat perubahan sosial sebagai dampak globalisasi sangat memperihatinkan. Dengan masuknya budaya barat ke Indonesia menjadi satu masalah kompleks yang membuat pola perilaku masyarakat di Indonesia berubah. Kecanggihan teknologi dan sifat masyarakat yang terbuka dan juga dinamis mampu dengan mudah mengubah pola pikir masyarakat Indonesia. Khususnya anak-anak remaja di Indonesia.

Gempuran globalisasi dapat dengan mudahnya mengubah pola pikir masyarakat. Contohnhya sikap individualis, dan materialitis, dan konsumtif bisa kita lihat saat ini. Sikap individualis dan masa bodo terhadap suatu hal menyebabkan pudarnya budaya gotong royong yang ada di masyarakat.

Bahkan dengan kuatnya era globalisasi sudah dapat masuk mempengaruhi jati diri bangsa. Contohnya perilaku anak muda yang mengikuti budaya dan trend luar dalam berpakaian minim dan terkesan tidak sopan. Hal tersebut sangatlah bertentangan dengan budaya yang ada di Indonesia.

Akibat globalisasi yang tidak dapat difilter secara baik, hakekat gotong royong untuk membantu dan meringankan dan mengajarkan rasa kebersamaan mulai ditinggalkan dengan adanya proses perubahan sosial pada masyarakat.

Seperti yang dikatakan oleh Imfa Dita Imania salah satu mahasiswi Ilmu Sosiologi Universitas Negeri Jakarta, mengatakan bahwa penyebab lunturnya budaya atau kebiasaan yang ada di Indonesia, seperti pudarnya budaya gotong royong disebabkan adanya budaya luar yang masuk ke dalam Indonesia mengakibatkan masyarakat Indonesia lebih tertarik dengan budaya luar sehingga lupa akan jati dirinya.

“Kurangnya interaksi sosial yang terjadi mengakibatkan adanya egoistic di dalam dirinya. Alhasil lunturnya budaya akibat masyarakat yang tidak mau tahu akan hal di sekitar lingkungannya karena adanya individual dan egoistik di dalam dirinya”.

Sehingga upaya yang harus kita lakukan dalam mengatasi memudarnya jati diri bangsa antara lain menjaga dan melestarikan tradisi dan budaya lokal yang dikutip dari buku Sosiologi 3. Semua pihak harus memiliki komitmen tinggi untuk melakukan pelestarian unsure dan nilai sosial budaya yang dianggap baik dan mulia sehingga dapat diteruskan kepada generasi penerus. Oleh karena itu, harus ada respon dan seleksi budaya yang berkembang dalam masyarakat.


Artikel Kiriman :
Risni Safitri

Politeknik Negeri Jakarta

 






Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Temukan juga kami di

Jejak Pendapat

Kota Bogor Menurut Anda Saat Ini ?
  Bertambah Indah
  Bertambah Bersih
  Bertambah Macet
  Tidak Perduli

Komentar Terakhir

  • Jasa SEO

    Very efficiently written information. It will be beneficial to anybody who utilizes ...

    View Article
  • Pakar SEO

    I just want to say thank you for the outstanding service and opportunity you have ...

    View Article
  • Jasa SEO

    You have a very interesting blog, and yes, I love the traditional Chinese language ...

    View Article


BOGOR WEBSITE