Gawai Bersarang di Otak Anak

By Redaksi 08 Mei 2018, 11:35:35 WIB | dibaca: 222 pembaca 

Gawai Bersarang di Otak Anak




BOGORnews.com ::: Perkembangan selalu mengikuti bertumbuhnya era modernisasi. Begitupun dengan teknologi. Tak luput benda canggih ini menjadi incaran bagi setiap kalangan, termasuk sanak saudara. Namun, tahukah bila alat mutakhir ini bisa berakibat buruk bagi diri sendiri maupun keluarga Anda?

Bila mendengar kata “smartphone”, yang muncul dalam benak seseorang umumnya yaitu perangkat serba bisa. Benda yang memberi pertanda bahwa manusia telah satu langkah lebih maju ke masa modern. Keberadaannya bak primadona. Telepon pintar yang bermanfaat bagi kelancaran hidup masyarakat, termasuk Indonesia. Telepon layar sentuh menjadi buah bibir bagi calon pembeli. Bahkan, harganya yang bisa mencapai selangit, tak menjadi masalah bagi kebanyakan orang.

Tetapi, pernahkah tersirat dalam pikiran bahwa gawai bisa menjadi kawan serta musuh? Apakah smartphone digunakan oleh anggota keluarga yang sudah berumur cukup?

Realita mengalihkan pandangan kita bahwa banyak anak yang masih di bawah umur, namun sudah lihai menggenggam gawai. Tak terkecuali Indonesia. Dalam sejarah, internet mulai masuk Indonesia sekitar 1990. Di Indonesia, generasi Z dikenal sebagai generasi yang lahir pada sekitar 1995 hingga 2010. Ini artinya, generasi inilah yang lahir di era ketika internet mulai merambah Indonesia. Generasi yang memanfaatkan akses internet dalam semua aspek kehidupan. Inilah generasi yang sangat ramah pada teknologi dibanding generasi sebelumnya.

Bagi anak perempuan, bukan buku bacaan yang dibuka, melainkan aplikasi media sosial, bagai gadis remaja. Bagi anak laki-laki, mereka akan lebih gemar mengunduh aplikasi permainan yang baru dalam smartphonenya, daripada bermain di lapangan bola bersama teman sebayanya.

Semua anak memiliki keingintahuan yang besar pada setiap peristiwa, kegiatan, atau benda yang ada di sekitarnya. Ketika lingkungan anak tersebut sedang menggunakan gadgetnya, sebenarnya anak itu pun sedang belajar melalui pengamatannya itu. “Anak adalah peniru paling ulung di lingkungan sekitarnya. Apalagi gambar visual atau simbol dalam gadget itu sangat menarik bagi dirinya, maka akan timbul keinginan besar untuk terus mencoba seperti orang lain,” ujar Dwi Riani Widyawati, M.Si.

Tentu, fenomena ini tak luput dari pengaruh gawai itu sendiri, salah satunya mengubah daya pikir anak. Daya pikir disebut sebagai keahlian kognitif, yaitu kemampuan seorang anak untuk berpikir, mengamati, mengingat, mengartikan simbol, berkhayal, menjalin hubungan dari pengamatan atau kegiatan yang dilakukannya. Termasuk kegiatan mengelompokkan, sehingga anak memiliki pengetahuan baru.

Menurut Dwi, ada berbagai faktor yang mempengaruhi daya pikir anak. Mulai dari hereditas, minat dan bakat anak, kesehatan dan makanan yang dikonsumsi, serta kematangan fisik dan psikis. Bisa juga dari faktor pembentukan, seperti stimulus keluarga, lingkungan, sekolah, dan teman pergaulan.

Pastinya, gawai yang dipegang anak ada hubungannya dengan daya pikirnya. “Tentu saja ada pengaruhnya. Teknologi seperti dua mata pisau, diciptakan karena memiliki manfaat, tapi juga dapat menimbulkan dampak negatif yang harus diwaspadai,” ujar Dwi. Dimulai dari kelebihannya, gawai mampu membantu menstimulasi imajinasi, membuat strategi, serta kecepatan tindakan melalui games. Perangkat ini juga bisa memperbaiki kemampuan panca indera anak.

Wanita yang berprofesi sebagai guru dan dosen ini berpendapat, bahwa anak yang terlalu banyak menggunakan gadget akan menjadi pasif atau kurang gerak. Sehingga, dapat berpengaruh pada kemampuannya bergaul dalam dunia nyata. Kondisi pasif inilah yang dapat membuat anak tidak kreatif dan menyebabkan obesitas. ”Anak yang kecanduan gadget hampir dipastikan tak dapat membedakan antara dunia nyata dan dunia maya, sehingga responnya mungkin sering tiba-tiba mengagetkan,” tukasnya.

Sudah tak dipungkiri, konten yang ditawarkan internet beragam, namun tak terbendung. Dari konten inilah, menyebabkan anak semakin malas melaksanakan tugas sekolah yang berujung senang membolos, malas berinteraksi dengan aktivitas luar ruang, dan cenderung marah jika tak diperbolehkan main handphone.

Begitu nyata anak memilih gawai ketimbang buku. Data yang diperoleh dari PBB membuktikan bahwa minat baca generasi muda Indonesia hanya 0,01 persen dibandingkan negara lain. “Ini sangat memprihatinkan,” kata Dwi, ”generasi muda Indonesia cenderung abai dengan persoalan sosial bangsanya.”

Bagi orang tua yang sudah terlanjur memperkenalkan handphone ke anaknya sebelum usia yang tepat, maka harus berpikir ekstra agar anaknya bisa terlepas dari kecanduan. Bisa dimulai dengan mendampingi dan membatasi durasi bermain gawai. “Atau juga beri aktivitas lain, misalnya mainan edukatif, bacakan buku cerita, serta latih hobi dan minat dari sang anak,” ucap Dwi.

Penulis :
Bagas Taruna Setiawan, Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta











Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Media Digital Bogor Radio


>>>Download MDB Radio APP<<<

Script Link MDB Radio

Temukan juga kami di

Jejak Pendapat

Kota Bogor Menurut Anda Saat Ini ?
  Bertambah Indah
  Bertambah Bersih
  Bertambah Macet
  Tidak Perduli

Komentar Terakhir

  • Murod

    Kiranya menjadi media yang objektif, mencerdaskan dan memberikan pencerahan pemikiran ...

    View Article
  • online lifestyle magazine

    whats up – wonderful web site, simply just on the lookout around some weblogs, ...

    View Article
  • Cryptophix

    Bitcoin tradicionalmente relacionam-se a equipe digitais de dinheiro. Ela existe ...

    View Article