Dari Walikota Joki Kuda Hingga Walikota Gila Bola
Walikota Bogor Dari Masa Ke Masa (Bag. I)

By Redaksi 12 Jun 2018, 00:53:12 WIB | dibaca: 513 pembaca 

Dari Walikota Joki Kuda Hingga Walikota Gila Bola

Ir. Muhammad saat menerima Piala Adipura yang diserahkan langsung oleh Presiden Soeharto

BOGORnews.com ::: Bogor adalah salah satu kota di Indonesia yang memiliki sejarah pemerintahan yang panjang. Dari sebuah ibu Kota kerajaan Pajajaran yang dikenal dengan nama Pakuan Pajajaran semasa Sri Baduga Maharaja (1482) Gemeente Buitenzorg (1905), Kota besar dan nyambung menjadi Kotamadya (1965) sampai menjadi Kota Bogor (1999)

Dalam tulisan bagian pertama BOGORnews.com akan memaparkan sekilas tentang Walikota Bogor mulai dari periode tahun 1965-1994. 

1.Kolonel Achmad Sham (1965-1979)

Achmad Sham adalah Walikota Bogor pertama pada masa pemerintahan Presiden Soeharto atau yang sering disebut dengan masa Orde Baru. Saat dilantik beliau adalah militer aktif. Achmad Sham tercatat dalam sejarah sebagai walikota terlama memimpin Kota Bogor. Sosok yang satu ini memiliki kegemaran memelihara kuda dan juga penunggang kuda atau Joki Kuda yang piawai. Bahkan pada tahun 1965 beliau dipercaya menjadi Ketua Umum Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi).Perhatian dan kecintaannya pada olahraga diwujudkan dalam pembangunan Stadion Purana pada tahun 1968. Stadion yang telah berganti nama menjadi Stadion Pajajaran hingga kini masih berfungsi. Untuk memenuhi sarana ibadah Ummat Islam Achmad Sham membamgun Masjid Raya yang berlokasi di Jalan Pajajaran Kota Bogor.

Di era kepemimpinan Achmad Sham, Bogor terbagi menjadi dua wilayah administratif kecamatan, yaitu Kecamatan Kota Kaler dan Kecamata Kota Kidul. Kecamatan Kota Kaler terdiri dari empat desa, yaitu Desa Panaragan, Paledang, Pabaton, dan Bantarjati. Sedangkan Kecamatan Kota Kidul terdiri dari empat desa, yaitu Desa Babakan Pasar, Tegallega, Batutulis, dan Bondongan.

2. Achmad Sobana SH (1979-1984)

Achmad Sobana dilantik oleh Gubernur Jawa Barat Aang Kunaefi pada 7 Maret 1979. Pada masa kepemimpinan Achmad Sobana wajah Kota Bogor banyak berubah dengan dibangunnya pusat pertokoan, perumahan sekelas vila, bangunan sekolah, sarana kepariwistaan, terminal dan pembangunan jembatan Bubulak dengan kontruksi baja. Terminal Baranangsiang merupakan salah satu bangunan Terminal termegah di Indonesia.Achmad Sobana juga mengenalkan Bogor sebagai Kota ATLAS (Aman Tertib Lancar Sehat).

Selain itu yang patut dicatat dalam masa kepemimpinannya, Kota Bogor memiliki tengaran Kota yaitu Tugu Kujang sebuah monumen yang dibangun bertepatan dengan Hari Jadi Bogor ke 500 tahun (1482-1982). Setahun kemudian tahun 1983. Pemerintah Kota Bogor menerbitkan sebuah buku yang sangat fenomenal yaitu Sejarah Bogor yang ditulis Saleh Danasasmita seorang sejarawan yang juga menjabat Kepala Seksi Kebudayaan Kandepdikbud saat itu.

Melalui Keputusan No : 8/Kep.DPRD/1979 tanggal 2 Juni 1979 Achmad Sobana menganugrahkan Kidang Pananjung kepada Achmad Sham dan Saleh Danasasmita atas jasa-jasanya dalam bidang Pembangunan di wilayah Kotamadya Bogor dan dalam bidang penggalian sejarah.

3. Ir. Muhammad (1984-1989)

Ir. Muhammad adalah sosok Walikota Bogor yang memiliki keahlian dibidang teknik Arsitektur. Dia tamatan Fakultas Teknik dari jurusan Arsitektur ITB, Bandung.  Hal ini sangat cocok dengan kondisi waktu itu, dimana pemerintah pusat sedang gencar-gencarnya membangun di berbagai bidang. Berbekal ilmu yang dimiliki Muhammad melakukan tata kelola dan rancang bangun Kota Bogor.

Muhammad sempat menggagas perluasan wilayah administratif Kota Bogor dan mendapat respon dari Bupati Bogor pada waktu itu, Soedardjat Nataatmadja. Perluasan Kota Bogor sebagai salah satu alternatif pilihan dalam melakukan penataan sebuah wilayah Kota dan Kabupaten Bogor. Namun perluasan wilayah Kota Bogor belum terwujud hingga akhir masa kepemimpinannya.

Pada kepemimpinan Muhammad Kota Bogor berhasil meraih piagam penghargaan Adipura selama tiga kali berturut-turut. Sebuah prestasi yang membanggakan masyarakat Kota Bogor.Bogor sebagai kota ATLAS, direalisasikan. Salah satu kebijakan Muhammad adalah berusaha menciptakan kondisi lingkungan yang sehat, untuk itu lokasi peternakan sapi perah dari kawasan Kelurahan Kebon Pedes dipindahkan ke Desa Cijayanti, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, yang jauh dari pemukiman penduduk.

Kebijakan Muhammad dalam menata pusat kota dapat dilihat saat merelokasi pergudangan ke luar kota yang diberlakukan sejak 31 Desember 1988. Hal ini dilakukan karena perkembangan fungsi Kota Bogor sebagai kota permukiman, pendidikan, pariwisata, dan perdagangan regional.Muhammad juga berhasil menata kawasan PKL (Pedagang Kaki Lima) melalui program yang dikenal Lapel (Lembaga Pengembangan Ekonomi Lemah). Sementara dalam pembangunan keagamaan pada Tahun 1987, dibangun Masjid Agung di sekitar kawasan Kebon Kembang, Kelurahan Pabaton Bogor Tengah.Peresmian Masjid Agung dilakukan oleh Gubernur Jawa Barat H. Aang Kunaefi.

4. Drs. Suratman (1989-1994)

Jika Achmad  Sham dikenal sebagai "Walikota Gila Kuda", maka Drs Suratman adalah walikota penggemar fanatik  olah raga sepak bola. Tidak heran jika ia  mendapat julukan "Walikota Gila Bola". Pada masa kepemimpinannya, Persatuan Sepakbola Bogor ( PSB), berhasil meraih tiga kali Piala Suratin. Sedangkan untuk memfasilitasi PSB, Stadion Pajajaran yang semula bernama Stadion Purana, dilengkapi dengan lampu penerangan sehingga bisa digunakan untuk pertandingan sepak bola di malam hari.

Suratman dikenal aktif melakukan kunjungan ke berbagai wilayah kecamatan dan kelurahan. Kegiatan yang dikenal dengan istilah turun ke bawah atau turba yang sering dilakukan Presiden RI pertama Bung Karno atau istilah blusukan yang dijalankan Presiden Joko Widodo saat ini. Juga sering dilakukan oleh Suratman dengan istilah keren : Cross Country Wilayah disingkat dengan CCW. Kegiatan kukurusukan seperti itu secara rutin dilakukan setiap hari Jum'at pagi. Program ini sangat merakyat. Walikota secara langsung nenyapa warga sekaligus memantau kondisi wilayah.

Sebuah stasiun radio milik Pemerintah Kota Bogor yang bernama Sturada (Studio Pemerintah Daerah) berubah namanya Sipatahunan. Selain menyajikan hiburan berupa lagu daerah, stasiun radio ini juga dimanfaatkan sebagai ajang dialog antara Walikota dengan warganya. Acara ini dikenal dengan Kotak Pos Juanda 10 yang disiarkan setiap Jumat malam. Gedung Radio Sipatahunan pun yang semula berada di area Gedung Kemuning Gading akhirnya di bangun tersendiri di Jalan Kesehatan (Sekarang Kantor Kesbangpol) bersebelahan dengan Gedung Sekretariat PWI Bogor yang juga dibangun atas bantuan Pemerintah Kota Bogor.

Pada saat itu pula lahir Pasukan Khusus Natadani (Kisus Natadani). Nama Natadani diambil dari salah satu situs di Kota Bogor, yaitu Situs Kutadani. Pasukan ini berangotakan anggota Korpri yang dibentuk untuk petugas upacara.

Pembangunan fisik yang dibangun di era kepemimpinan Suratman yaitu Gedung DPRD dilingkungan kantor Walikota. Bangunan monumental, Gedung Bale Binarum yang pembangunannya didanai oleh beras perelek anggota Korpri. Pengelolaan gedung tersebut dilakukan Yayasan Korpri. Stadion Pajajaran dan Bale Binarum diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat, Yogie S Memet. (Bersambung)

Penulis :
Rachmat Iskandar (Penggiat Cagar Budaya)

Editor :
Iyan Sofyan











Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Media Digital Bogor Radio


>>>Download MDB Radio APP<<<

Script Link MDB Radio

Temukan juga kami di

Jejak Pendapat

Kota Bogor Menurut Anda Saat Ini ?
  Bertambah Indah
  Bertambah Bersih
  Bertambah Macet
  Tidak Perduli

Komentar Terakhir

  • Dr. louis

    Apakah Anda ingin menjual ginjal Anda? Apakah Anda mencari kesempatan untuk menjual ...

    View Article
  • hgh Supplements from Amazon

    I study this text. I suppose You placed a lot of attempt to create this article. I ...

    View Article
  • epfindia

    pretty desirable put up. I simply stumbled upon your weblog and desired to mention ...

    View Article


BOGOR WEBSITE